Tugas
Antropologi
Universitas
Sriwijaya
Fakultas
Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Prodi
Ilmu Komunikasi
Kelompok 2 : -
Atika Ulfa (07031181520046)
-
Abrar Rizki Ilhamsyah (07031281520184)
-
Aditia Febriani (07031181520006)
-
Agripa Putra Batubara (07031281520190)
-
Desti Agustina (07031281520202)
-
Dwi Kasih Marta. R (07031181520036)
-
M. Sonny Assad (07031381520134)
-
Presiensi Fauzi Zakharis (07031181520182)
Indralaya
2015
SUKU TENGGER
Asal – Usul Adat
Istiadat Suku Tengger – “…Tengger, salah suatu dataran tinggi di Jawa Timur, kerap dikait-kaitkan
dengn nama suku setempat yakni suku Tengger. Asal usul suku Tengger Gunung
Bromo sendiri bila dikilas balik kembali berawal pada suatu masa
pemerintahan dinasti Brawijaya di Majapahit. Alkisah bergembiralah sang
ratu berikan anak yang saat lahir tidak menangis seperti lazimnya anak baru
lahir. oleh sebab itu keistimewaannya, bayi tersebut diberi nama ” RORO ANTENG
“. Sementara itu di sebuah pertapaan, istri seorang Brahmana / Pandhita baru
saja melahirkan seorang putra yang fisiknya sangat bugar dengan tangisan yang
sangat keras ketika lahir, dan karenanya bayi tersebut diberi nama ” JOKO SEGER
“.
Disaat beranjak dewasa,
keduanya pun telah saling jatuh cinta, sementara itu keadaan di kerajaan
Majapahit sedang terjadi kemerosotan moral para pejabat kalangan istana yang
berbuah kemunduran kerajaan. Beberapa orang kepercayaan istana serta sebagian
keluarganya memutuskan pergi kewilayah timur. Dan sebagian besar dari mereka
juga hijrah ke kawasan pegunungan Bromo – Semeru, termasuk Roro Anteng
serta Joko Seger. Sekian lama mereka memimpin rakyat diwilayah ini, hati mereka
masih saja merasa hampa serta sedih dikarenakan belum dikaruniai buah shati
satupun. Beranjaklah Joko Seger dan Roro Anteng bersemedi di puncak gunung Bromo, dan akhirnya harapan
mereka pun dikabulkan Hyang Kuasa..
Terlihatlah suatu
pertanda lidah api yang bersinar terang keluar dari kawah gunung Bromo, yang mana hal ini
menjadi pertanda yang mengungkapkan bahwa mereka akan hidup sejahtera, beranak
– pinak hingga seluruh keturunannya memenuhi kawasan tersebut. Dalam sanubari
hati mereka mengucap syukur kepada Sang Murbeng Pasti serta mengucap kaul akan
mengorbankan putra bungsunya ke gunung tempat dimana mereka mereka bersemedi.
lalu Roro Anteng mengandung anak pertama yang berjenis kelamin laki-laki diberi
nama temenggung Klewung, tak terasa waktu demi waktu berjalan sekian lama. Roro
Anteng serta Joko Seger dikaruniai 25 orang anak laki-laki, yang bungsu diberi
nama Raden Kusuma.
Setelah mereka
dikaruniai sekian banyak anak, tiba saatnya mereka harus korbankan si bungsu.
melainkan mereka tidak tega melakukannya terhadap anaknya yang begitu
disayangi. Singkat cerita, mereka tidak pernah melaksanakan kaulnya itu, justru
bersama kedua puluhlima anak-anaknya dari mereka, Joko Seger serta Roro Anteng
mencoba bersembunyi, dengan si bungsu diletakkan di tengah – tengah di antara
saudara – saudaranya. tetapi tidak disangka-sangkaa, pada bulan Kasada, gunung tempat Roro
Anteng dan Joko Seger bersembunyi mengeluarkan api, yang bahkan menjilat serta
menyeret Raden Kusuma putera bungsunya itu ke dalam kawah.
Selesai bencana
tersebut, Terdengar suara gaib yang berkata yang muncul dari kegelapan :” Hai
saudara-saudaraku yang masih hidup, hiduplah rukun serta abadi, Agar saya Dewa
Kusuma menghadap Hyang Kuasa mewakilkan saudara-saudara sekalian untuk memenuhi
janji orang tua kita kepada Hyang Kuasa , Camkanlah selalu tiap bulan Kasada,
kenanglah dengan mengirim hasil tani kalian. ” Hingga sekarang adat
istiadat Upoacara Kasada dilakukan secara turun menurun menjadi upacara yang
digelar dengan namaUPACARA KASADA. panggilan suku Tengger
sendiri adalah gabungan kata dari nama Roro anTENG dan joko seGER, leluhur suku
Tengger Bromo yang bermukim di
Kawasan Gunung
Bromo-Tengger-Semeru. Seperti sifat masyarakat suku Tengger, Tengger pun bermakna
TENGGER ING BUDI LUHUR yang berarti : Tempat Tinggalnya Orang – Orang Yang
BERBUDI LUHUR.
BUDAYA SUKU TENGGER
SEJARAH
Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger. Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger.
Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.
DESKRIPSI LOKASI
Suku bangsa Tengger berdiam
disekitar kawasan di pedalaman gunung Bromo yang terletak di kabupaten
Probolinggo, Jawa Timur. Berdasarkan persebaran bahasa dan pola kehidupan
sosial masyarakat, daerah persebaran suku Tengger adalah disekitar Probolinggo,
Lumajang, (Ranupane kecamatan Senduro), Malang (desa Ngadas kecamatan
Poncokusumo), dan Pasuruan. Sementara pusat kebudayaan aslinya adalah di
sekitar pedalaman kaki gunung Bromo.
UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
1. BAHASA
Bahasa yang berkembang di masyarakat suku Tengger adalah bahasa Jawa Tengger yaitu bahasa Jawi kuno yang diyakini sebagai dialek asli orang-orang Majapahit. Bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab mantra pun menggunakan tulisan Jawa Kawi. Suku Tengger merupakan salah satu sub kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasai budaya yang khas. Kekhasan ini bisa dilihat dari bahasanya, dimana mereka menggunakan bahasa Jawa dialek tengger, tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa pada umumnya
UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
1. BAHASA
Bahasa yang berkembang di masyarakat suku Tengger adalah bahasa Jawa Tengger yaitu bahasa Jawi kuno yang diyakini sebagai dialek asli orang-orang Majapahit. Bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab mantra pun menggunakan tulisan Jawa Kawi. Suku Tengger merupakan salah satu sub kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasai budaya yang khas. Kekhasan ini bisa dilihat dari bahasanya, dimana mereka menggunakan bahasa Jawa dialek tengger, tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa pada umumnya
2. PENGETAHUAN
Pendidikan pada masyarakat
Tengger sudah mulai terlihat dan maju dengan dibangunnya sekolah-sekolah, baik
tingkat dasar maupun menengah disekitar kawasan Tengger. Sumber pengetahuan
lain adalah mengenai penggunaan mantra-mantra tertentu oleh masyarakat Tengger.
3. TEKNOLOGI
3. TEKNOLOGI
Dalam kehidupan suku
Tengger, sudah mengalami teknologi komunikasi yang dibawa oleh
wisatawan-wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga cenderung menimbulkan
perubahan kebudayaan. Suku Tengger tidak seperti suku-suku lain karena
masyarakat Tengger tidak memiliki istana, pustaka, maupun kekayaan seni budaya
tradisional. Tetapi suku Tengger sendiri juga memiliki beberapa obyek penting
yaitu lonceng perungggu dan sebuah padasan di lereng bagian utara Tengger yang
telah menjadi puing.
4. RELIGI
Mayoritas masyarakat Tengger
memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu
di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah
Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama laiin yang dipeluk adalah agama
Islam, Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut,
setiap tahun mereka melakukan upacara Kasodo. Selain Kasodo, upacara
lain yaitu upacara Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga. Sesaji dan mantra amat
kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya
bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan
mantra hitam yang sifatnya merugikan.
Ada tiga prinsip ajaran Hindu masyarakat Tengger antara lain:
- Pemujaan kepada Tuhan
- Pemujaan kepada Leluhur
- Pemujaan kepada alam semesta.
Masyarakat Tengger mempercayai Sang Hyang Agung, roh para leluhur, hukum
karma, reinkarnasi, dan moksa. Kepercayaan masyarakat Tengger terhadap roh
diwujudkan sebagai danyang (makhluk halus penunggu desa) yang di puja di
sebuah punden. Punden biasanya terletak di bawah pohon besar atau
dibawah batu besar. Roh leluhur pendiri desa mendapatkan pemujaan yang lebih
besar di sanggar pemujaan. Setahun sekali masyarakat suku tengger mengadakan
upacara pemujaan roh leluhur di kawah Gunung Bromo yang disebut dengan upacara
Kasada. Ajaran agama tersebut di satukan dalam sebuah kitab suci yang ditulis
di atas daun lontar yang dikenal dengal nama Primbon. Sesaji dan mantra
amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger
percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih
bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.
Dalam melaksanakan peribadatan, masyarakat Tengger melakukan ibadah di
punden, danyang dan poten. Poten adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger
yang beragama Hindu. Keberadaan poten ada pada sebidang lahan di lautan pasir
sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Poten terdiri dari beberapa
bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi
menjadi tiga Mandala/zona yaitu:
1. Mandala Utama (Jeroan)
Tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang terdiri dari: padma serupa
candi lengkap dengan pepalihan. Fungsi utama padma adalah tempat pemujaan Tuhan
Yang Maha Esa. Padma tidak beratap dan terdiri dari bagian kaki yang disebut
tepas, badan/batur dan kepala dengan nama sari lengkap dengan Bedawang, Nala,
Garuda dan Angsa.
Bedawang Nala melukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana, dibelit oleh seekor atau dua ekor Naga, Garuda dan Angsa posisi terbang di belakang badan padma. Masing-masing hewan tersebut melambangkan keagungan bentuk dan fungsi padmasana. Bangunan Sekepat (tiang empat) atau yang lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan/padmasana, menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara. Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.
Bedawang Nala melukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana, dibelit oleh seekor atau dua ekor Naga, Garuda dan Angsa posisi terbang di belakang badan padma. Masing-masing hewan tersebut melambangkan keagungan bentuk dan fungsi padmasana. Bangunan Sekepat (tiang empat) atau yang lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan/padmasana, menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara. Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.
Kori Agung Candi Bentar, bentuknya mirip dengan tugu kepalanya memakai
gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas
dengan bangunan bujur sangkar segi empat atau sisi banyak dengan sisi-sisi
sekitar depa alit, depa madya atau depa agung. Tinggi bangunan dapat berkisar
dari sebesar atau setinggi tugu sampai sekitar 100 meter memungkinkan pula
dibuat lebih tinggi dengan memperhatikan keindahan proporsi candi bentar. Untuk
pintu masuk pekarangan pura dari jaba pura menuju mandala sisi/nista atau jaba
tengah/mandala utama bisa berupa candi gelung atau kori agung dengan berbagai
variasi hiasan. Untuk pintu masuk pekarangan pura dari jaba tengah/Mandala
Madya ke jeroan Mandala Madya sesuai keindahan proporsi bentuk fungsi dan
besarnya atap bertingkat-tingkat tiga sampai sebelas sesuai fungsinya. Untuk
pintu masuk yang letaknya pada tembok penyengker/pembatas pekarangan pura.
2. Mandala Madya (Jaba Tengah)
Tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari: Kori Agung Candi
Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi
empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan
bujur sangkar, segi empat atau segi banyak dengan sisi-sisi sekitar satu depa
alit, depa madya, depa agung.
Bale Kentongan, disebut bale kul-kul berada di sudut depan pekarangan pura,
bentuknya susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kul-kul/kentongan.
Fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu
dari rangkaian upacara. Bale Bengong atau disebut Pewarengan suci berada
diantara jaba tengah/mandala madya, mandala nista/jaba sisi. Bale Bengong
memiliki bentuk bangunan empat persegi atau memanjang deretan tiang dua-dua
atau banyak luas bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan
sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura yang umumnya jauh dari desa
tempat pemukiman.
3. Mandala Nista (Jaba Sisi)
Tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi
bentar/bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok
penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah/sisi
memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori
Agung. Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk
variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada
umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula
pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya
matahari. Komposisi masa-masa bangunan pura berjajar antara selatan atau
selatan-selatan di sisi timur menghadap ke barat dan sebagian di sisi utara
menghadap selatan.
5. ORGANISASI SOSIAL
PERKAWINAN
Sebelum ada Undang-Undang perkawinan banyak anak-anak suku Tengger
yang kawin dalam usia belia, misalnya pada usia 10-14 tahun. Namun, pada masa
sekarang hal tersebut sudah banyak berkurang dan pola perkawinannya endogami.
Adat perkawinan yang diterapkan oleh suku Tengger tidak berbeda jauh dengan
adat perkawinan orang Jawa hanya saja yang bertindak sebagai penghulu dan wali
keluarga adalah dukun Pandita. Adat menetap setelah menikah adalah neolokal,
yaitu pasangan suami-istri bertempat tinggal di lingkungan yang baru. Untuk
sementara pasangan pengantin berdiam terlebih dahulu dilingkungan kerabat
istri.
SISTEM KEKERABATAN.
Seperti orang Jawa lainnya,
orang Tengger menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral yaitu garis
keturunan pihak ayah dan ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah
keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak.
SISTEM KEMASYARAKATAN.
Masyarakat suku Tengger
terdiri atas kelompok-kelompok desa yang masing-masing kelompok tersebut
dipimpin oleh tetua. Dan seluruh perkampungan ini dipimpin oleh seorang kepala
adat. Masyarakat suku Tengger amat percaya dan menghormati dukun di wilayah
mereka dibandingkan pejabat administratif karena dukun sangat berpengaruh dalam
kehidupan masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger mengangkat masyarakat lain
dari luar masyarakat Tengger sebagai warga kehormatan dan tidak semuanya bisa
menjadi warga kehormatan di masyarakat Tengger. Masyarakat muslim Tengger
biasanya tinggal di desa-desa yang agak bawah sedangkan Hindu Tengger tinggal
didesa-desa yang ada di atasnya.
6. MATA PENCAHARIAN
6. MATA PENCAHARIAN
Pada masa kini masyarakat
Tengger umumnya hidup sebagai petani di ladang. Prinsip mereka adalah tidak mau
menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain. Macam hasil pertaniannya adalah
kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. Jagung adalah makanan pokok suku
Tengger. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi
menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah
dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan.
7. KESENIAN
7. KESENIAN
Tarian khas suku Tengger
adalah tari sodoran yang ditampilkan pada perayaan Karo dan Kasodo. Dari segi
kebudayaan, masyarakat Tengger banyak terpengaruh dengan budaya pertanian dan
pegunungan yang kental meskipun sebagian besar budaya mereka serupa dengan
masyarakat Jawa umumnya, namun ada pantangan untuk memainkan wayang kulit.
a. Yahya kasada, Upacara ini ilakukan pada 14 bulan kasada, mereka membawa ongkek yang berisi sesaji dari hasil pertanian, ternak dan sebagainya. Lalu dilemparkan kekawah gunung bromo agar mendapatkan berkah dan diberikan keselamatan oleh yang maha kuasa.
b. Upacara Karo, Hari raya terbesar masyarakat tngger aalah upacara karo atau hari raya karo. Masyarakat menyambutnya dengan suka cita dengan membeli pakaian baru, perabotan, makan, minuman, melimpah, dengan tujuan mengadakan pemujaan terhadap sang Hyang Widi Wasa.
c. Upacara Kapat, jatuh pada bulan ke empat, bertujuan untuk memohon brekah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.
d. Upacara kawalu, jatuh pada bulan kedelapan, masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk kesehatan Bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.
e. Upacara kasanga, jatuh pada bulan kesembilan. Masyarakat berkelilling desa dengan membunyikan kentongan dan membawa obor tujuannya adalah memohon keselamatan.
f. Upacara kasada, Jatuh pada saat bulan Purnama (ke dua belas) tahun saka, Upacara ini isebut sebagai upacara kuban
g. Upacara Unan, Unan, diadakan lima tahun sekali dengan tujuan mengaaan penghormatan terhadap roh leluhur.
NILAI-NILAI BUDAYA
Orang Tengger sangat dihormati oleh masyarakat Tengger karena mereka selalu hidup rukun, sederahana, dan jujur serta cinta damai. Orang Tenggr suka bekerja keras, ramah, dan takut berbuat jahat seperti mencuri karena mereka dibayangi adanya hukum karma apabila mencuri barang orang lain maka akan datang balasan yaitu hartanya akan hilang lebih banyak lagi. Orang Tengger dangat menghormati Dukun dan Tetua adat mereka.
ASPEK PEMBANGUNAN
Aspek pembangunan yang terlihat adalah pada sektor pariwisata misalnya dengan pembangunan-pembanguna akses-akses menuju gunung Bromo agar lebih mudah dijangkau oleh wisatawan. Desa Tosari merupakan salah satu pintu gerbang daerah Tengger, desa ini memanjang dari utara sampai selatan. Di tengah desa itu terdapat pasar dan tempat-tempat ibadah seperti masjid bagi umat Islam dan pura bagi umat Hindu. Selain itu terdapat pula kantor kelurahan, kantor kecamatan, dan koramil, kantor PKK, sekolah dasar, madrasah, taman-kanak-kanak, pos kesehatan, dan taman gizi serta puskesmas. Jadi desa-desa yang ada di wilayah Tengger sudah cukup maju.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar