Sabtu, 28 November 2015



Tugas Pengantar Antropologi
Komunitas kuliner
“ Neng’s Bakery


Disusun oleh:
Kelompok 7
Fathan Ellan Yuukha (07031181520026)
Fuji Astuti (07031181520060)
Maulisa Rosa Nabila (07031181520062)
Meilan Try Utami (07031181520164)
Melita Dwi Putri (07931181520038)
Reynaldo Febrian Yudha (07031281520178)
Sherla Oktrina (07031181520052)
Theo Ahaddin Juliandy (07031281520186)
Dosen Pengasuh: Prof.Dr Alfitri,M.Si

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi Tahun Ajaran 2015/2016
Univesitas Sriwijaya Indralaya

Neng’s Bakery

Neng’s Bakery merupakan usaha pembuatan berbagai jenis roti. Mempunyai dua cabang yaitu Neng’s bakery cabang serumpun dan Neng’s bakery jalan lintas Palembang Km 33.kedua cabang Neng’s bakery tersebut masih berada di seputaran kabupaten Indralaya Ogan Ilir.Tersedia 40 varian roti disini, Pada awalnya bapak Suherman sumanto selaku pemilik Neng’s bakery berasumsi bahwa masih tingginya peluang keberhasilan usaha roti modern didaerah inderalaya ini, karena masih minimnya usaha jenis ini di daerah inderalaya selain itu berpandangan dari strategisnya wilayah ini yang merupakan area tempat tinggal dan belajar mahasiswa perkuliahan. Dengan bermodalkan awal sebesar 250 juta maka berjalanlah usaha ini hingga sekarang  dan terus berkembang. Dalam sehari Neng’s bakery memproduksi 300 roti dengan harga rata-rata Rp. 7000,-/roti dengan 9 orang karyawan yang bekerja didalamnya.“Neng’s Bakery” menjual berbagai jenis roti dengan harga terjangkau di depan kampus universitas sriwijaya jalan lintas Palembang km 33 Inderalaya Ogan Ilir. D. Proses Produksi Dalam proses pembuatan roti di Neng’s bakery tidak dilakukan secara manual namun menggunakan tenaga mesin.
Jenis usaha toko roti modern seperti  “Neng’s Bakery” ini masih langka di daerah indralaya yaitu hanya terdapat dua toko saja ini menjadi keunggulan dari Neng’s Bakery.di Neng’s Bakery terdapat  Produk Roti yang disajikan hadir dalam banyak ragam dan variasi lezat, menggiurkan dan berwarna menarik, penggunaan bahan berkualitas tinggi dengan penambahan bahan untuk cita rasa khas. Pengunjung juga bisa menikmati roti langsung di tempat,karena Neng’s Bakery mempunyai tempat khusus yang nyaman dan mempunyai desain interior yang classic sehingga pengunjung mendapatkan kenyamanan.
Neng’s Bakery mempunyai Visi dan Misi yaitu:
1.      Pegawai rajin, tekun, ulet, tabah, sabar, disiplin waktu, ramah
2.      Pemilik usaha teliti, rinci dalam perhitungan keuangan
3.      Gunakan bahan berkualitas dengan harga terjangkau
4.      Mengubah prinsip usaha dengan modal sekecil-kecil untung sebesar-besarnya menjadi prinsip dengan usaha sebaik-baiknya untuk memperoleh untung sebesar-besarnya. Selalu berusaha sebaik mungkin dalam segi rasa, tempat dan pelayanan agar memperoleh kepercayaan pelanggan dan kesenantiasaan pengunjung untuk hadir kembali.
Saat ini Neng’s Bakery memiliki rencana untuk memperbesar usahanya dengan membuka cabang baru Neng’s Bakery di kota prabumulih. Dan memperbanyak variasi dan produksi roti dicabang indralaya.




MAKALAH ANTROPOLOGI
“DESKRIPSI KOMPLEK PERUMAHAN”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Antropologi


DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6
1.       LUTHFIYAH SHAFIRA                                07031281520157
2.       AFRISCA MEGA D.I                                     07031181520056
3.       AHMAD TIAN S                                             07031181520032
4.       ARIZKIYANTI                                              07031181520166
5.       RADES YUANSASTRA M                             07031181520048
6.       RAMA AULIA B                                            07031281520170
7.       TIA AGUSTINA                                             07031181520014

DOSEN PENGASUH :
PROF. Dr. ALFITRI, M.SI

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN 2015
KOMPLEK PERUMAHAN
            Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang senang hidup berkumpul. Namun, di era globalisasi ini dengan semakin majunya perkembangan zaman membuat banyak masyarakat Indonesia sudah sedikit banyak bertingkah laku dan bergaya hidup kebarat-baratan. Salah satunya bersifat individualis. Masyarakat Indonesia yang dahulunya senang hidup mengelompok kini telah terpengaruh oleh adanya budaya barat. Bukan hanya adanya budaya barat, tetapi kehidupan individual yang dimiliki masyarakat Indonesia sekarang adalah karena adanya faktor kebutuhan.
            Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang terpadat di dunia. Hal ini membuktikan bahwa banyak sekali manusia yang hidup di tanah Indonesia. Semakin banyak masyarakatnya, maka semakin banyak pula kebutuhan yang harus di penuhi, seperti sandang, papan dan juga pangan.
            Salah satu penyebab masyarakat Indonesia bersifat individual ialah kebutuhan papan. Dewasa ini sudah banyak sekali tanah-tanah kosong yang di jadikan komplek-komplek perumahan baik oleh pengusaha maupun oleh pemerintah, dari harga relatif atas sampai harga relatif bawah. Sehingga banyak masyarakat yang tergiur untuk tinggal di kompleks perumahan dengan alasan “tinggal menempati rumah tanpa harus membangun”. Komplek perumahan tingkat menengah sampai tingkat atas biasanya di tinggali oleh orang-orang yang berekonomi menengah dan atas pula. Dan biasanya mereka sibuk dengan perkerjaannya masing-masing sehingga kerap kali kurang bersosialisasi dengan tetangga sebelahnya.
            Untuk membuktikan hal ini, kami telah melakukan suatu pengamatan yang berlokasi di Komplek Perumahan Permata Indah, Jalan Tegal Binangun, Plaju Darat, Palembang. Kami melakukan pengamatan pada Sabtu, 21 November 2015.

(Sumber : Dokumentasi pribadi, November 2015)

            Pada saat kami berada di depan perumahan tersebut tampak sepi dan hanya beberapa orang yang terlihat. Dari pengamatan dan survei langsung yang kami lakukan muncul beberapa pertanyaan yang kami ajukan saat melakukan pengamatan, kami mewawancarai salah satu warga yang kebetulan bisa kami temui pada saat kami melakukan pengamatan.

v Bagaimana  interaksi  antarwarga  dan  suasana  komplek  sehari-hari?
Dari pertanyaan di atas kami mendapat jawaban bahwa “rata-rata warga di komplek tersebut berkegiatan dari sebelum pagi hingga malam sehingga interaksi antarwarga komplek sangat kurang bahkan disaat hari libur sekalipun”. Suasana komplek sehari-hari benar-benar sepi dan tenang. Masyarakat kompleks biasanya hanya keluar jika ada keperluan atau saat ingin pergi beraktivitas.




(Sumber : Dokumentasi Pribadi, November 2015)

            Setelah mengetahui kehidupan di kompleks tersebut, kami tertarik untuk mengetahui sistem kepemimpinan yang ada di kompleks, jika biasanya perkampungan atau masyarakat luar kompleks di pimpin oleh ketua RT beserta perangkatnya, bagaimana dengan sistem kepemimpinan di komplek ini?.
v Bagaimana  sistem  kepemimpinan  yang  ada  di  komplek  ini ?
Sistem kepemimpinan yang ada di komplek ini sama seperti daerah-daerah lain yang dipimpin oleh ketua RT beserta perangkatnya . Pada saat kami melakukan pengamatan, malam harinya akan diadakan pemilihan ketua rt baru setelah beberapa waktu tanpa ketua rt karena ketua rt yang lama baru saja meninggal.

            Dengan adanya surat edaran ini, menunjukkan bahwa masyarakat kompleks yang terbukti individual sehari-harinya, mereka tetap bermusyawarah demi kepentingan tempat tinggalnya.

            Kompleks yang terkenal dengan sepi dan sunyi mengisyaratkan banyak pemilik rumah yang sedang keluar, berbeda dengan perkampungan masyarakat pada umumnya yang ramai dan selalu ada pemilik rumah yang tinggal. Hal ini membuat kami bertanya, bagaimana sistem keamanan yang ada di komplek ini. Sedangkan perumahan di perkampungan yang rami saja banyak terjadi pencurian, bagaimana dengan perumahan di kompleks yang notabennya di huni oleh masyarakat golongan menengah ke atas dan meninggalkan rumah seharian.

v Bagaimana  sistem  keamanan  yang  diterapkan  komplek  ini ?
Sistem keamanan di dalam komplek ini sedikit lebih ketat dibandingkan perkampungan biasa karena adanya pos penjagaan di gerbang masuk komplek, dimana setiap tamu yang datang menginap diwajibkan lapor sebelum 1 × 24 jam. Setelah kami menanyai salah satu penjaga yang ada di tempat beliau menerangkan bahwa ada pergantian shift penjaga pagi dan siang, masing-masing shift dijaga oleh 2-3orang. Mereka biasanya berkeliling kompleks untuk mengawasi rumah-rumah yang di tinggal pergi oleh pemiliknya.



(Sumber : Dokumentasi Pribadi, November 2015)

Dari pengamatan yang kami lakukan, kami menemukan banyak perbedaan antara perkampungan biasa dengan komplek perumahan. Perbedaan yang ada, sebagai berikut:
·         Interaksi antarwarga di perkampungan lebih sering dan intens sedangkan, di komplek perumahan lebih minim dan hampir tidak ada. Karena warga komplek perumahan cenderung sudah berpikir lebih individualis, ekonomis, dan praktis jika dibandingakan dengan warga perkampungan yang masih bersifat kekeluargaan dan kolektif.
·         Suasana perkampungan lebih ramai dan hidup dibandingkan suasana komplek perumahan yang cenderung sepi, tenang, dan tidak hidup. Tidak ada kegiatan di luar rumah sekalipun di waktu libur.
·         Sistem keamanan komplek perumahan dengan perkampungan biasa pun berbeda. Di komplek perumahan menerapkan peraturan dan penjagaan yang lebih ketat terhadap tamu yang datang maupun keamanan sekitar komplek perumahan. Sedangkan, di perkampungan biasa lebih fleksibel dan tidak terlalu ketat terhadap peraturan dan penjagaan terhadap tamu yang datang maupun lingkungan sekitar, tetapi tetap ada orang yang menjaga keamanan lingkungan perkampungan dengan melakukan pergiliran penjagaan maupun membayar orang untuk meronda setiap malamnya demi menjaga kekondusifan lingkungan.



KESIMPULAN
            Masyarakat yang tinggal di kompleks perumahan ekonomi menengah dan ekonomi atas, cenderung individual dan kurang bersosialisasi dengan tetangganya, hal ini di sebabkan masyarakat ekonomi menengah dan ekonomi atas rata-rata sibuk dengan perkerjaannya dan hanya ada di rumah pada malam hari karena masyarakatnya beraktivitas dari pagi hingga malam hari.
            Sistem kepemimpinan di komplek perumahan juga sama layaknya perumahan di perkampungan biasa. Namun, sistem keamanannya berbeda jika perkampungan masyarakat biasa di jaga oleh masyarakat yang tinggal di kampung itu sendiri secara bergilir dengan berjaga malam setiap malam. Namun, komplek perumahan di jaga oleh satpam 24 jam karena kompleks perumahan yang cenderung sepi dan ditinggal penghuninya untuk beraktivitas.